Perjalanan Mencari Rumah

Chicago 2018
Chicago, 2018 (Foto: Alldo Fellix Januardy)

Setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang mengapa saya bepergian ke luar negeri, saya selalu menjawab,”saya sedang mencari rumah”.

Sang penanya biasanya tertawa karena ketika saya mengatakan “rumah” (home)—mungkin karena ketidaksempurnaan Bahasa Inggris saya—mereka akan berpikir bahwa saya sedang mencari properti dalam bentuk rumah (house).

Mereka sering melanjutkan kalimatnya dengan,”jika saya menjadi kamu, saya tidak akan membeli rumah di sini (entah Kuala Lumpur, Bangkok, Singapura, Beijing, New York, atau Montreal) karena harganya mahal sekali.”

Saya melanjutkannya dengan tawa yang keras seraya menjelaskan rumah yang saya maksud adalah tempat di mana saya bisa diterima—di samping harga rumah sungguhan di Jakarta memang sama mahalnya.

Terpasung

Ada alasan utama mengapa saya menjelajah mencari rumah: saya merasa terpasung. Menjadi seorang Tionghoa yang bekerja di sektor publik adalah awal mula munculnya pertanyaan-pertanyaan tentang rumah dalam kepala saya.

Saya tahu bahwa profesi pengacara publik tidak baru bagi kelompok Tionghoa, meskipun jumlahnya memang tak banyak (sebut saja Yap Thiam Hien atau Franz Hendra Winarta). Namun, bayangan umum masyarakat terhadap etnis saya sering menempatkan saya dalam label dan posisi tertentu dalam masyarakat yang seolah tidak boleh saya lawan.

Beberapa anggota keluarga saya, misalnya, saya ketahui mengukur keberhasilan hidup semata-mata dari akumulasi kekayaan. Pernyataan seperti,”wah pengacara banyak uangnya dong ya!” seringkali muncul dalam pertemuan keluarga. Namun, ketika saya menjelaskan bahwa bukan itu makna hidup yang saya cari, wajah mereka kebingungan dan tak tahu bagaimana harus melanjutkan pembicaraan.

Hal itu belum termasuk bila saya mengutarakan pandangan politik saya yang kerap kali tak populer di mata mereka. Dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta waktu lalu, misalnya, rekam jejak saya sebagai “pengacara penggusuran” sering membuat saya dianggap sebagai Tionghoa aneh karena tidak mendukung sesama Tionghoa untuk maju dalam pentas publik. Padahal saya mengupayakan diri saya agar tak pernah membela figur, hanya nilai. Dan pilihan figur politik saya belum tentu berbeda semata-mata hanya karena saya menentang sebuah kebijakan dari seorang figur politik.

Saya tahu pasti bahwa mereka tak pernah berniat buruk, hanya saja mereka mungkin tak pernah membayangkan diri berada dalam semesta yang berbeda karena tak ingin, atau kesempatan tersebut memang tak pernah datang kepada mereka.

Stigma ini tak hanya saya rasakan dalam lingkungan keluarga saya sendiri. Lagi-lagi, sewaktu saya banyak terlibat menangani kasus-kasus penggusuran paksa pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta yang lalu, sentimen anti-Tionghoa dalam kontestasi politik tersebut saya rasakan sendiri.

Pernah salah seorang warga yang saya dampingi dalam sebuah kasus penggusuran paksa tak sengaja melontarkan kalimat,”Semua (maaf saya tidak bermaksud rasis, hanya mengutarakan percakapan apa adanya) orang C*na sama saja, serakah mentang-mentang kaya dan penoda agama!” Anda mungkin tak akan percaya bahwa respon saya terhadap pernyataan tersebut adalah tertawa dan mencoba untuk tidak marah.

Respon dirinya? Ia minta maaf sampai wajahnya pucat pasi karena “keceplosan”.

Lagi-lagi, sama seperti situasi keluarga saya, saya tahu pasti bahwa mereka tak pernah berniat buruk, hanya saja mereka mungkin tak pernah membayangkan diri berada dalam semesta yang berbeda karena tak ingin, atau kesempatan tersebut memang tak pernah datang kepada mereka.

Mencari Leluhur

Perjalanan saya mencari rumah membawa saya pada memori 12 tahun yang lalu. Saat itu, kakek saya membawa kami sekeluarga untuk berkunjung ke Xiamen, sebuah kota kecil di selatan Beijing, Tiongkok, kampung halaman para leluhur saya. Ia menekankan bahwa perjalanan tersebut ia tujukan agar saya mampu menemukan “akar” saya.

Jujur, satu-satunya hal yang saya ketahui tentang ke-Tionghoa-an saya adalah bahwa saya bermarga Huang dan bahwa Huang Zhong, salah seorang Five Tiger Generals Dinasti Shu dalam gim Romance of the Three Kingdom (yang juga berseri panjang seperti sinetron “Tersanjung” dan “Cinta Fitri”!), memiliki marga yang sama dengan saya. Saya memiliki perasaan bangga yang tak wajar akan hal tersebut, tanpa tahu menahu asal-usul saya secara runut.

Pada masa itu juga saya baru mengetahui bahwa saya masih memiliki beberapa kerabat di sana—saya adalah Tionghoa-Indonesia generasi keempat. Perjalanan tersebut mengantarkan saya pada sebuah pintu kayu di komplek rumah susun yang sama sekali tak bisa dibilang mewah. Dua orang perempuan usia senja, adik dari kakek saya, membukakan pintu bagi kami.

Sialnya, selain senyum tak ada yang saya bisa katakan kepada mereka, mereka tak bicara bahasa Indonesia dan saya adalah korban kekerasan budaya pada masa Orde Baru. Saya seketika menyadari mengapa saya memiliki nama kebarat-baratan dibandingkan dengan “tiga huruf” atau mengapa ada teman SMA saya dahulu yang selalu pucat pasi, ingin menangis, setiap mendengar pembahasan tentang sejarah 1998 dalam pelajaran sekolah atau obrolan yang lewat tak sengaja.

Saat itu saya pernah memikirkan, mungkin suatu hari saya harus meninggalkan Indonesia, tetapi tidak untuk ke Tiongkok (karena saya juga tidak merasa memiliki keterikatan di sana), namun tempat lain yang (mungkin) lebih menyenangkan. Amerika Serikat atau Kanada, misalnya.

Perjalanan ke Barat

Dua belas tahun berlalu, saya berusia 27 tahun ketika menulis ini. Sudah tiga bulan saya berada di Amerika Serikat dan Kanada, sesuai dengan doa kecil saya satu dekade silam. Keberuntungan membawa saya untuk memperoleh beasiswa penuh dari pemerintah Amerika Serikat dan Kanada dalam waktu yang berturut-turut untuk ikut serta dalam program pertukaran profesional dan pendidikan hak asasi manusia.

Ketika saya mengetahui bahwa saya akan pergi jauh, sama seperti para pelancong pemula lainnya, saya memikirkan berbagai tempat liburan. Saya sempat mencari kata kunci seperti “tujuan wisata Chicago” dan “restoran terbaik di Quebec” pada mesin pencarian.

Kebahagiaan itu tak bisa dibendung, terlebih karena saya gagal untuk melanjutkan mimpi saya berkuliah di Amerika Serikat setahun sebelumnya yang sempat membuat saya sangat depresi dan sempat menghentikan segala kegiatan sosial saya. Ini bisa menjadi awal yang baik untuk mengejar kembali mimpi saya, pikir saya.

Apa lacur, mimpi untuk merencanakan pindah kewarganegaraan juga sempat mengalir di kepala saya, mimpi yang mungkin sempat terbesit di kepala hampir setiap orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Saya juga tahu betapa tidak populernya ide tersebut di kalangan masyarakat Indonesia, cap “tidak nasionalis” akan menghinggapi saya selamanya andai saya benar-benar melakukannya.

Setiba di Amerika Serikat, saya masih ingat betul pengalaman pertama saya melintasi White House, National Mall, atau Supreme Court of the United States. Pengalaman itu membuat bulu kuduk saya berdiri karena semua tempat tersebut sebelumnya hanya bisa saya bayangkan dari buku-buku sejarah, atau bahkan komik pahlawan super.

Semua orang mengejar American Dream, dan saya sempat merasa bahwa mungkin kini saya bisa menjadi bagian di dalamnya.

Kemarahan Saya

Di Amerika Serikat dan Kanada, hanya ada dua kemungkinan respon yang saya hadapi ketika saya berbicara tentang Indonesia, juga kemungkinan ketiga yang teramat langka.

Pertama, mereka hanya berbicara hal-hal yang indah tentang Bali, dan hanya Bali, (kadang salah menduga Bali sebagai nama resmi negara) yang menunjukkan entah betapa terasingnya negara saya atau mereka tidak cukup membaca peta.

Kedua, mereka yang mengetahui (sangat) sedikit konteks politik di Indonesia dan berpandangan negatif. Entah berapa ratus kali saya dengar dari orang-orang yang saya temui bahwa kesan mereka tentang Indonesia adalah ketertinggalan kita dalam isu kesetaraan gender, korupsi, persekusi minoritas agama, etnis, dan orientasi seksual, politik identitas, atau bahkan fundamentalisme agama.

Sialnya, saya tak bisa membantah karena memang hal tersebut lebih banyak benarnya, ditambah saya memang berinteraksi secara langsung dengan berbagai isu tersebut dalam pekerjaan saya sehari-hari. Tetapi tentu saya bisa membantah dengan sigap jika ada orang asing bebal yang berpikir bahwa Indonesia adalah negara yang masih dilanda konflik (ini kisah nyata).

Kelompok kedua juga menyebalkan karena mereka yang berbicara demikian sering lupa berkaca bahwa negara mereka sendiri yang mereka persepsikan sebagai “negara maju” juga memiliki masalah yang tak kalah banyaknya—memang mungkin Kanada harus diberikan sedikit pengecualian soal ini, tetapi bukan berarti mereka tak punya masalah sama sekali.

Terakhir, kelompok ketiga yang “jatuh cinta” karena pernah mengunjungi Indonesia, tetapi percayalah kelompok ini sangat langka, seperti mencari ratu semut di dalam rumahnya di antara barisan semut lainnya—begitu saya menghargai mereka.

Namun bukan soal apakah orang asing mengetahui Indonesia atau tidak yang menarik minat saya, tetapi respon saya terhadap pernyataan mereka yang membuat saya terkejut dengan diri saya sendiri: saya marah dan kesal setiap kali saya tak bisa membela diri bahwa Indonesia memiliki jutaan sisi positif yang tidak mereka ketahui.

Saya ingin tak henti bercerita betapa mereka akan mencintai keramahan kami, lezatnya masakan khas Indonesia (dan saya baru menyadari bahwa lidah saya sama sekali tidak betah dengan masakan Barat), atau bahwa Indonesia juga memiliki pusat perbelanjaan dan gedung-gedung tinggi yang tak kalah banyaknya dengan kota-kota internasional lain di dunia dan kami tidak setertinggal itu.

Saya ingin memberitahukan di depan wajah mereka betapa indahnya kebersamaan nongkrong di warung lapo di Medan, ramainya jalan Margonda Raya, Depok, ketika Ramadan, menyusuri jalan-jalan romantis Yogyakarta (atau mungkin Bandung, seperti di film Dilan 1990), atau indahnya berbagai wilayah pesisir di bagian timur Indonesia sebagaimana diceritakan kawan-kawan saya dari Kupang atau Ambon (sayang sekali saya belum memiliki kesempatan mengunjunginya, saya kini berkomitmen untuk menabung agar dapat liburan ke sana tahun depan).

Kemarahan ini menempatkan saya dalam posisi galau, mengapa saya marah bila tempat yang kurang saya anggap sebagai rumah disalahpahami oleh orang lain?

Ingin ke Indonesia

Adalah seorang siswi tingkat delapan, Afrika-Amerika, berusia 14 tahun di sebuah sekolah negeri di bagian selatan Chicago, Amerika Serikat, yang menyediakan jawaban yang saya cari.

Saya tak sengaja bertemu dengan dirinya ketika saya mendampingi mentor saya, seorang pensiunan hakim perempuan, memberikan penyuluhan tentang sistem peradilan pidana anak di sekolah tersebut. Siswi ini melontarkan pernyataan yang tak pernah saya duga:

“Sepertinya Indonesia tempat yang lebih menyenangkan untuk ditinggali,” ia simpulkan dari percakapan saya dengan dirinya ketika saya membantu ia mengerjakan sebuah proyek belajar.

Kalimat itu membuat saya tersentak karena begitu langka manusia di bagian Barat dunia yang sekonyong-konyong muncul dengan pernyataan demikian. Pernyataan yang anomali dari siswi polos itu gatal membuat saya mengajukan pertanyaan lanjutan,”mengapa kamu berpikir demikian?”

“Saya tak bisa bermain sepulang sekolah di sini, banyak baku tembak antar geng jaringan narkotika terjadi setiap hari. Guru dan orang tua khawatir kami tertembak. Saya bahkan tak merasa aman di rumah saya sendiri. Kamu bilang di Indonesia anak-anak bisa bermain sepak bola di jalan umum,” ia jawab dengan nada yang lirih.

Saya terhenyak.

Mencari Jawaban

Ada misi perjalanan saya yang berubah ketika saya mendengar jawaban siswi itu. Saya tak lagi tertarik dengan tempat wisata, namun teringat dengan tujuan besar saya untuk merenungkan kembali apakah tanah yang sedang saya injak bisa menjadi rumah bagi saya. Saya tiba-tiba terobsesi dengan percakapan-percakapan yang mendorong saya merenungkan hal tersebut.

Setiap akhir pekan, saya meluangkan waktu saya menjelajahi sudut-sudut berbagai kota di Amerika Serikat dan Kanada untuk bepergian ke tempat-tempat yang tidak biasa: perkampungan, rumah susun, jalan-jalan sempit, daerah pinggir kota, dan puluhan tempat lainnya—bercakap-cakap dengan segala manusia yang saya temui. Saya menemukan percakapan-percakapan yang tidak biasa.

Di Springfield, Illinois, saya bertemu dengan seorang pria kulit putih, paruh baya, yang memiliki 7 senjata api di rumahnya. “Saya tidak percaya negara bisa melindungi saya,”katanya tentang Amerika Serikat, tanah air yang menjadi rumahnya selama puluhan tahun.

Di Brooklyn, New York, saya bertemu dengan seorang perempuan berusia 28 tahun dari Tennessee yang “memilih pindah ke tempat di mana ia bisa diterima” karena orang tuanya yang religius kecewa dengan dirinya yang memutuskan untuk mengakui bahwa ia adalah seorang lesbian. Pemuka agama di lingkungan rumah terdahulunya juga menghakimi dirinya sebagai “pendosa”. Kini ia tinggal bersama kekasihnya dan ia merasa menemukan rumah.

Di Arlington, Virginia, saya bertemu dengan seorang sopir transportasi daring (dalam jaringan/online), imigran dari Mesir, yang menyatakan bahwa ia merindukan suara azan melantun jauh di lingkungan rumahnya, terutama ketika Ramadan. Ia tak akan pernah bisa “pulang” karena ia mengalami persekusi di Mesir yang membuat ia terpaksa menjadi pengungsi.

Di Washington, District of Columbia, saya bertemu dengan seorang staf pemerintah yang “merasa Amerika Serikat tak lagi nyaman sebagai rumah seperti dahulu” karena banyaknya pendatang (red. Imigran dan pengungsi) yang “mengambil kesempatan ekonomi orang asli kulit putih”.

Di Montreal, Quebec, saya bertemu dengan seorang gelandangan yang “menyesali keputusannya 3 tahun lalu meninggalkan rumahnya di Ghana untuk mengadu nasib ke Kanada, mencari rumah lain” karena ia berakhir malang.

Di Ottawa, Ontario, saya bertemu dengan seorang pasangan lanjut usia yang menyatakan Ottawa “tak lagi seperti rumah bagi mereka” semenjak seorang kepala daerah yang menurut mereka “ingin mengikuti Trump” terpilih untuk berkuasa.

Seluruh cerita tersebut belum ditambah dengan pengalaman saya mendengar cerita persekusi ketika mendampingi kasus-kasus pengungsi internasional, jauh sebelum saya ada di dataran yang lain.

Saya tertegun.

Membangun Rumah

Dalam tulisan ini saya tidak akan menyatakan sikap saya apakah ada pendapat tertentu yang cenderung saya sepakati atau tidak, tetapi percakapan-percakapan tersebut tiba-tiba membuat saya tidak merasa sendiri. Saya bukan satu-satunya orang yang tak berhenti mencari rumah yang nyaman untuk saya tinggali.

Saya tersadar bahwa perjalanan saya menjelajah ke Barat dunia bukan untuk “mencari rumah”, karena di mana pun saya berada, ada orang-orang yang merasa terasing.

Saya pergi untuk “membangun rumah”, di mana pun saya berada.

Pengalaman ini memutar kembali ingatan saya tentang teman SMA saya yang mengalami trauma saat peristiwa 1998, korban penggusuran paksa yang kehilangan rumahnya, seorang pengungsi Timur Tengah yang terdampar di Indonesia dan tidak mengetahui nasib keluarganya, kawan saya yang tidak berani mengaku kepada orang tuanya bahwa ia memiliki orientasi seksual yang berbeda, kawan saya yang dikucilkan karena ia baru memutuskan untuk melepas kerudungnya sebagai simbol religiusitas, kawan saya yang ibadah dan kegiatan pesantren di masjidnya terganggu karena ada pembangunan mal tepat di sebelahnya yang tidak berkonsultasi dengan mereka, atau bahkan beberapa anggota keluarga saya yang merasa bahwa dirinya tidak akan pernah menemukan rumah jika tidak mengakumulasi kekayaan sebanyak-banyaknya.

Mereka adalah orang-orang yang kini merasa terasing dengan dunia yang kini mereka huni, entah untuk tujuan yang baik atau kurang baik.

Saya melupakan mimpi saya untuk berpindah kewarganegaraan, mencari tanah air lain, atau mencari rumah yang lain.

Seketika saya merasakan bahwa batas-batas negara yang abstrak tak lagi relevan. Hal yang penting adalah membangun rumah yang nyaman bagi setiap orang, di mana pun tempatnya.

Saya ingin bersama orang-orang yang membangun rumah bagi mereka yang mencarinya, di mana pun mereka berada.

Agar suatu hari nanti siswi 14 tahun yang saya temui di Chicago bisa bermain bola di jalan umum, tanpa perlu jauh-jauh terbang ke Indonesia.

Agar gelandangan yang mungkin saat ini tertidur di jalan raya kota Montreal tak menyesali keputusannya merantau.

Agar kawan-kawan saya tak lagi merasa bahwa mereka perlu pergi jauh keluar dari Indonesia hanya untuk mencari rumah.

Sekarang, saya ingin pulang.

St-Anne-de-Bellevue, 25 Juni 2018

9 thoughts on “Perjalanan Mencari Rumah

  1. Kak parah touching abisss !!!
    Runutan ceritaaa dengan kerangka berpikir super terstuktur tapii indah dibacanya 😭😭
    Welcome home soon ya kak aldoooo ~

    Like

  2. bravo nice share ,keep write n share
    pengalaman yg hampir sama di rasakan banyak tionghoa indonesia.
    smoga bermanfaat buat teman , saudara, anak dan cucu kita

    Like

  3. Aldo, Tulisan sangat dirasakan di hati dan memory, Mas Aldo. Sy spertinya bernasib mirip dgn anda. Tapi jd Pengungsi di Amrik
    dgn beda generasi (tahun 66 man ). Skrng sdh di Indonesia selama 37… Ya berjuang yg sama. tahn

    Like

  4. Aldo, Tulisan sangat dirasakan di hati dan memory, Mas Aldo. Sy spertinya bernasib mirip dgn anda. Tapi jd Pengungsi di Amrik
    dgn beda generasi (tahun 66 man ). Skrng sdh di Indonesia selama 37… Ya berjuang yg sama. tahn

    Like

  5. Dalam pandangan saya sebagai Aktivis Kebangsaan Indonesia selama hampir 60 th terakhir yg tetap berlanjut sd sekarang. Kawan kawan WNI keturunan Tionghoa ( apapun alasannya) kurang punya kemauan dan tekad utk benar benar ” MELEBURKAN DIRI UTK MENJADI BANGSA/ORANG INDONESIA”. Aktivitas Politik ( nggak hrs ikut Parpol) dan Kemasyarakatan biasanya sangat mereka hindari. Segregasi antara yg Merasa Pribumi dgn Kawan Kawan Keturunan China semakin parah 30 th terskhir ini ktk Terjadi Kebangkitan Semangat Pendidikan dgn Nuansa Keagamaan yg semakin Kenthal dan Ketat. Pilahan bertambah dgn thema Antara Muslim dan Non Muslim yg ditandai dgn Gerakan 212 yg memanfaakan ” Kekurang Arifan Ahok!” Bangsa Indonesia sejak itu seakan TERBELAH SECARA DIKOTOMIS! Sejak bln Maret 2018 sekumpulan aktivis Kebangsaan berdiskudi tentang masalah bsngsa ini. Banyak kawan jaean saya ygketurunan Tionghoa yg saya undang utk ikut berperan aktip. Tapi sayangseribu sayang banyam yg kemuduan yg tidaknongol dgn seribu satu alasan. Akhirnya ktk MAKLUMAT AREK SURABAYA kami Canangkan secara resmi hanya satu kawan keturunan yg mau dan berani mencantumkan namanya yakni Esthi Susanti Hudiono. Saya jadi semakin meyakini kebenaran Kata Bijak yg diajarkan Syayidinna Ali bin Abu Thalib yg bunyinya adalah :” Kezaliman dan Kebusukan akan Berkuasa dan Merajalela bukan karena mereka Hebat dan Kuat; akan tetspi kareba Orang Orang Baik dan Bijak memilih utk DIAM.!”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.