“Kenanglah gue sebagai orang yang berhasil menertawakan hidup!”

Sebuah obituari untuk Widodo Budidarmo, seorang saudara, keluarga, guru, dan pejuang hak asasi manusia.

“Hidup mah dibawa ketawa aja. Ga usah pusing-pusing!” tuturnya keras menutup pembicaraan. Ia kemudian menghisap rokoknya lalu menghabiskan segelas kopi susu instan yang ia bawa sebagai “teman rokok”. Tak lama, ia bergegas pergi dengan semangat dan berujar,”sudah. Gue mau berangkat dulu cari duit lagi buat LBH!”

Candaan Widodo “Dodo” Budidarmo di atas adalah lakon yang terjadi hampir setiap hari pada jam istirahat siang di balkon lantai dua LBH Jakarta.

Meski dikenal sebagai tokoh aktivis hak asasi manusia senior, Dodo tak pernah canggung bergaul dengan orang-orang yang usianya bahkan jauh lebih muda daripada dirinya. Candaan Dodo rutin membuat kami, para pekerja di LBH Jakarta, tertawa, meski kami terpaut perbedaan usia antara 20 sampai dengan 30 tahun. Tak pernah ada jarak.

Selain senang bergaul, ia juga punya semangat besar untuk menjadi “guru” bagi generasi muda. Dodo kerap mewariskan ilmu dan pengalamannya melalui diskusi kepada siapapun yang ia temui. Di LBH Jakarta saja, misalnya, topik diskusi tentang keadilan bagi kelompok minoritas gender sering mewarnai ruangan kami. Bahkan, topik serupa ia diskusikan dengan salah seorang kawan saya yang tak sengaja ia temui kala ia sedang nongkrong di sebuah swalayan.

Memperjuangkan Hak-Hak Minoritas Gender

“Banyak LGBT, waria, jadi korban diskriminasi: ngalamin kekerasan, diusir keluarga, ditolak sewa rumah, ditolak sekolah dan kampus untuk melanjutkan pendidikan, atau didiskriminasi di tempat kerja. Tapi, pemerintah malah lebih suka ngurus urusan kamar tidur dan privasi mereka, daripada menghapus diskriminasi,” pernah suatu waktu Dodo mencurahkan kegelisahannya kepada saya.

Apa yang ia ucapkan secara faktual menggambarkan situasi LGBT di Indonesia. Berbagai lembaga swadaya masyarakat, seperti Arus Pelangi dan LBH Jakarta, tempat di mana Dodo pernah berkiprah, rutin menerima pengaduan kasus-kasus seperti di atas. Sedih, jumlahnya malah terus meningkat dari tahun ke tahun.

Namun, bukan Dodo namanya bila ia berhenti sebatas menggerutu lewat diskusi warung kopi atau cuitan sosial media. Ia turun tangan.

Kepada saya (dan pasti kepada banyak pekerja kemanusiaan dari generasi yang lebih muda dari dirinya), pernah ia bercerita pengalaman pribadi “menantang maut” hanya demi untuk mengadvokasi hak-hak minoritas.

“Pernah, Do. Di Taman Lawang bencong-bencong teman eyke diciduk aparat. Sudahnya bukan ditahan resmi, malah dipaksa oral. Media tak ada yang memberitakan kebejatan tersebut. Banyak warganet di media sosial malah bersorak seolah sudah menegakkan agama dan moral. Saya yang jemput subuh-subuh dan saya marah-marah ke atasan mereka sampai akhirnya dibebaskan. Waktu gue temui, para waria itu ketakutan,” ceritanya seru.

Pada kesempatan lain, Dodo juga kerap membela pembubaran diskusi atau berbagai acara mengenai hak-hak LGBT, ia bertutur,”kelompok fundamental itu beraninya keroyokan bawa-bawa agama. Diskusi sehat ga nyampe isi kepalanya. Pernah gue samperin ketemu gue satu-satu, pentungan di tangan juga ga berani diangkat, cuma teriak-teriak aja.”

Dari berbagai pengalaman tersebut, Dodo juga menuturkan kesedihannya,”bagaimana ya orang bisa menghilangkan prasangka terhadap kelompok LGBT kalau sekadar bikin diskusi aja dilarang. Kita tak memilih untuk jadi seperti ini. Mana ada orang sudah tahu akan menjadi korban persekusi (red. terhadap kelompok LGBT), tetapi tetap memilih menjalankannya kalau memang bukan karena hal-hal di luar kuasa kita. Kita ingin masyarakat tahu hal itu.”

Dalam sebuah wawancara dengan HukumOnline, Dodo menghaturkan rasa syukurnya lahir di lingkungan yang “tak mengucilkan orang sepertinya”. Keluarga Dodo juga mendukung aktivitas advokasi Dodo.

“Keberuntungan” itulah yang menjadi dorongan utama bagi Dodo untuk turut mengadvokasi hak-hak minoritas, agar mereka juga dapat diperlakukan secara setara dan memiliki akses yang sama terhadap hak-hak dasar.

Dari Office Boy Menjadi Tokoh Hak Asasi Manusia

Tak akan ada yang menyangka bahwa pengalaman panjang advokasi dan petuah-petuah bijak di atas keluar dari mulut seorang office boy.

Sejak tahun 1990an, Dodo yang sedari lulus SMP tak meneruskan sekolah, berpindah-pindah pekerjaan. Ia pernah berwirausaha, menjadi petugas toko, petugas kebersihan, sampai akhirnya takdir mempertemukan ia dengan gerakan sosial. Pada awal tahun 2000, Ia diangkat bekerja oleh Toto Rahardjo (Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia – INSIST) untuk mengelola bidang umum organisasi tersebut.

Pengalaman itu yang selalu Dodo banggakan kepada semua orang. Dalam setiap diskusi santai, ia berulang-ulang bercerita bahwa ia pernah menjadi office boy yang tugasnya hanya membereskan barang-barang, sampai membuatkan kopi untuk berbagai tokoh yang berkunjung ke lembaga swadaya masyarakat tersebut.

“Mansour Fakih dan Roem Topatimasang itu dulu setiap pagi gue yang bikin kopi dan tehnya. Pernah juga untuk tamu-tamu tokoh besar, seperti Eva Kusuma Sundari, Hendardi, dan Bambang Harymurti. Dari situ gue belajar soal gerakan sosial politik, diskusi terus sama mereka. Siapa yang sangka gue malah kecemplung di bidang ini sampai puluhan tahun kemudian,” kenangnya kepada saya.

Keseriusannya mempelajari gerakan sosial dan hak asasi manusia mengantarkan Dodo berkarya di berbagai lembaga. Selain INSIST, Dodo juga pernah bekerja untuk Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) selama beberapa tahun, tempat di mana ia menempa pengalaman advokasinya dengan membela kasus-kasus pelanggaran hak buruh.

Pengalaman advokasi yang ia peroleh dari organisasi tersebut juga yang kemudian mengantarkan dirinya turut membantu pendirian organisasi hak asasi manusia lain, seperti AGRA Indonesia dan Arus Pelangi—sebelum akhirnya mengabdikan diri untuk LBH Jakarta.

Sebagai aktivis, Dodo telah paripurna. Kiprahnya mengadvokasi berbagai isu hak asasi manusia telah membuat namanya harum di komunitas pegiat hak asasi manusia nasional dan internasional.

Karya Dodo untuk LBH Jakarta

Tahun 2014, Dodo resmi menjadi kolega saya di LBH Jakarta. Ia diangkat menjadi Kepala Divisi Penggalangan Dana Publik.

Waktu itu saya baru lulus dari Universitas Indonesia dan diangkat menjadi sukarelawan magang. Karena ketidakpahaman saya tentang isu hak-hak LGBT, saya sempat “takut” bergaul dengan Dodo. Ditambah, ia memang seorang yang jahil. Semakin saya takut dengan dirinya, ia malah semakin menjahili saya. (Saya menyesal pernah berpikir bahwa LGBT “menular” dan karena saya pada waktu itu masih sangat konservatif, saya pernah suatu waktu berdoa agar Dodo “disembuhkan” hahaha)

Berbagai kecurigaan itu luntur ketika saya menelusuri rekam jejaknya, seiring dengan meningkatnya pemahaman saya terkait isu hak-hak minoritas (banyak “kesalahan” terhadap isu hak minoritas di masa lalu saya sesali belakangan hari semata-mata karena ketidakpahaman saya). Saya dibuat heran mengapa tokoh hak asasi manusia sekaliber Dodo berkenan bersusah diri “turun gunung” untuk membantu LBH Jakarta, ia menjawab,“gue kasihan ini sama LBH. Umur organisasi udah mau 50 tahun, tapi setiap tahun terus-terusan krisis keuangan, yang bantu itu-itu aja orangnya lama-lama juga capek dan jadi kasihan juga.”

Lagi-lagi, ia tak hanya berucap. Hanya dalam 3 tahun, Dodo berhasil mereformasi sistem penggalangan dana publik LBH Jakarta (SIMPUL LBH Jakarta) dan menambah jumlah donatur tetap LBH Jakarta dari puluhan menjadi ratusan. SIMPUL LBH Jakarta juga kerap bekerjasama dengan organisasi-organisasi besar lain atau selebritis dan tokoh-tokoh masyarakat berkat koneksi dari Dodo.

“Ini masih kurang. Baru tertutup 15-20 persen dari kebutuhan operasional LBH per tahun. Target gue SIMPUL harus bisa mendanai 50-60 persen kebutuhan organisasi supaya LBH Jakarta bisa menjadi organisasi yang semakin independen dan mandiri,” setiap kali ia berucap penuh semangat tentang ambisinya untuk LBH Jakarta, matanya berbinar cerah.

Orang-orang sempat bertanya, apakah motivasi Dodo sehingga begitu semangatnya membantu LBH Jakarta? Berapakah Dodo dibayar?

Semua akan kaget jika tahu bahwa Dodo dibayar hanya lewat sedikit dari batas Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta, pun pernah beberapa kali gajinya tidak ia ambil atau ia ambil untuk ia sumbangkan kepada staf lain yang lebih membutuhkan.

Gue tulus kerja di sini. Banyak organisasi lain nawarin supaya gue pindah dengan gaji lebih gede, 2 kali lipat, 3 kali lipat, atau lebih. Gue tolak. Terlepas berbagai kekurangannya, gue merasa akrab dengan LBH Jakarta karena organisasi ini tulus. Gue mau tercatat dalam sejarah organisasi ini dan bikin organisasinya jadi besar,” pesan Dodo kepada saya.

Pesan Kepada Generasi Muda

Ilmu dan pengalaman Dodo tidak ia simpan sendiri. Dalam berbagai kesempatan, Dodo kerap mengutarakan harapannya untuk generasi muda pejuang hak asasi manusia.

“Generasi muda harus lebih keras belajar dan lebih berani tampil,” pesannya berulang-ulang kepada kami. Kami selalu mengiyakan dengan tawa sumringah, karena ia selalu meyampaikan hal apapun dengan gestur yang lucu.

Selain memberi semangat, Dodo juga kerap mengutarakan otokritik terhadap pejuang hak asasi manusia yang ia anggap berasal dari generasi yang sama dengan dirinya, yaitu para “generasi tua”.

“Generasi tua ini ga mau minggir-minggir, kasih jalan dan percaya sama anak-anak muda. Cuma di beberapa organisasi yang tokoh-tokohnya terus berganti, mayoritas organisasi hak asasi manusia masih aja “dia-dia lagi” yang narsis, yang tampil melulu ga cukup-cukup. Kalau mau begitu terus kapan organisasinya bisa maju,” kritik Dodo.

Di LBH Jakarta, mimpi agar regenerasi organisasi bisa terus berjalan, tetap dikawal Dodo dengan sungguh-sungguh. Ia kerap mendorong generasi muda LBH Jakarta untuk tampil menjadi pembicara di berbagai acara, mencari rekomendasi untuk aplikasi berbagai beasiswa, membagikan kesempatan pengembangan diri melalui pelatihan, mempercayakan kami melaksanakan berbagai kegiatan, atau memperkenalkan kami kepada tokoh-tokoh senior dan media massa.

“Kalau pintunya gue buka ini nanti lu dan yang muda-muda bisa belajar sendiri. Gue mau lihat lu, Matthew, Arul, Eny, dan yang lain (para kolega saya di LBH Jakarta) juga bisa jadi teladan buat nanti yang lebih muda lagi daripada lu. Siapa tahu lu bikin NGO sendiri, kantor hukum sendiri, jadi tokoh, atau masuk bantu pemerintahan, lu inget ini cara gue,” pernah ia bertutur kepada saya dan beberapa rekan saya di salah satu koridor LBH Jakarta.

Pesan-Pesan Terakhir

Empat hari lalu adalah terakhir kalinya saya menjenguk Dodo. Ia terbaring lemah di rumah sakit, tak berbicara sepatah katapun.

Saya ingat, televisi di kamar rumah sakit menayangkan liputan berita tentang putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan uji materi pemidanaan LGBT dan mengembalikan isu “legalitas LGBT” untuk dibahas oleh Presiden RI dan DPR-RI.

“Kemenangan sementara melawan diskriminasi terhadap LGBT ini anak-anak didikan lu juga yang perjuangkan. Lu patut berbangga,” ucap saya sembari menepuk pundaknya. Ia hanya membalas dengan senyum sayu.

Sampai saat itu, tak ada pikiran selintas pun bahwa gerakan hak asasi manusia akan kehilangan Dodo lebih cepat.

Hari ini, ketika Dodo pergi, saya mengenang ucapannya tentang kematian. Suatu waktu pada tahun lalu, sepulang jadwal kerja, saya menumpangi motor bebeknya sampai sebuah halte TransJakarta. Sepanjang jalan kami berdiskusi tentang betapa saya sedang tidak semangat beraktivitas dan menjalani kehidupan sehari-hari karena sedang tertimpa banyak konflik dan masalah.

Ia hanya menjawab,”hidup tuh buat diketawain, Do. Kalau bisa ketawa waktu masalah ada, itu ciri orang berhasil. Gue juga kalau mati, kenanglah gue sebagai orang yang berhasil menertawakan hidup!”

 

Alldo Fellix Januardy, seorang sahabat dan murid bagi Widodo Budidarmo. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi saya mengenal sang tokoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s