Manusia Perahu

IMG_20160418_212644
Pengabdi Bantuan Hukum LBH Jakarta, Uchok Shigit Prayogy, berdialog bersama dengan manusia perahu.

Pasar Ikan. 44 tahun sudah kawasan ini dihuni oleh para nelayan dan buruh pelabuhan. Sehari-hari mereka menggantungkan hidupnya dengan melaut dan menjual hasil lautnya ke pasar yang letaknya berdekatan dengan pemukiman mereka. Kawasan ini juga sangat bersejarah. Selain bekas pelabuhan Belanda, Museum Bahari—tempat yang dahulu pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film Si Manis Jembatan Ancol—juga berada di lokasi ini.

11 April 2016, tanpa dialog Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merubuhkan rumah-rumah warga. Sebelum itu terjadi, warga sudah berkali-kali mencoba menemui Gubernur, tetapi tidak digubris. Gubernur tetap kokoh. Ironis, rumah mereka akhirnya runtuh bersama puing tembok Bastion Zeeborg, benteng Belanda bernilai sejarah yang telah berusia 300 tahun.

Pemprov DKI Jakarta mungkin mengetahui hal tersebut, tetapi mereka tidak peduli. Mungkin karena tawaran dari pengembang lebih bernilai.

DSC_0031
Zahra, anak dari manusia perahu sedang belajar mewarnai di atas sekocinya.

Setelah insiden penggusuran paksa, mereka direlokasi ke rumah susun Marunda dan Rawa Bebek yang jauh. Mereka akan kesulitan bekerja. Ratusan warga menolak pindah.

Sebagai bentuk protes, mereka tetap tinggal di perahu yang biasa mereka gunakan sehari-hari untuk melaut. Kini hampir tak ada gunanya selain menjadi rumah sementara mereka.

Bagi banyak mata, mereka akan dianggap tidak tahu diri. Rumah lama kumuh akan diganti oleh rumah susun yang bagus. Gubernur salah satunya. Protes mereka ditanggapi dingin oleh Gubernur yang lekas menyudutkan mereka dengan sebutan “pengintai” dan “pemain sinetron”.

DSC_0038
Seorang anak yang rumahnya juga tergusur. Ia berpose dengan payung saat saya meminta izin untuk memotret dirinya.

Tapi, mata-mata ini juga tidak peduli bagaimana kelak nelayan dan buruh pelabuhan akan bekerja dari bangunan tinggi. Rumah mereka di laut.

Mungkin sebagian besar orang lebih suka jadi burung. Di sangkar emas.

Tidak terbang, kehilangan hakikatnya. Lalu, tetap bangga memamerkannya kepada dunia.

Karena langit, sama seperti laut, memang seringkali cuma menjanjikan ketidakpastian.

Tapi, karena itulah hidup jadi bernilai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s